Bersama Sukses

pengetahuan rakyat adalah kekayaan bangsa yang tak ternilai

 

Kecerdasan Majemuk Anak

March 3, 2009

Kecerdasan Majemuk Anak

 

Semua orangtua akan merasa sangat bahagia sekali jika memiliki anak yang cerdas, tidak ada satu orangtuapun yang mengharapkan anaknya tidak cerdas, bisa dikatakan 100% orangtua yang memiliki anak pasti mengharapkan anaknya cerdas. Supaya anak menjadi cerdas dibutuhkan berbagai macam bentuk upaya yang mendorong agar kecerdasan anak tersebut timbul dan terpancing untuk muncul. Berbagai macam model untuk memacu kecerdasan majemuk anak banyak dilakukan, seperti salah satunya yang diuraikan di bawah ini.

 

 Aktivitas seni multimedia berupa operet musikal akan mengasah multiple intelligences anak (kecerdasan majemuk), kreativitas, serta menyeimbangkan otak kiri dan kanan anak.

Sekarang kamu jadi kurcacinya, aku mau jadi putri Cinderella,” kata Jessica  kepada Sekar, adiknya. ”Tapi, aku maunya jadi putri Cinderella  yang pake baju putih seperti bidadari.” ”Iya deh. Aku jadi kurcacinya yang suka menolong dan rajin bekerja ya,” kata Sekar. Dan suara tawa pun terdengar di beranda rumah.

Kalau sudah bermain bersama teman-temannya, anak-anak akan merasa gembira luar biasa. Terkadang mereka main sekolah-sekolahan, masak-masakan, dokter-dokteran, putri dan tukang sihir. Macam-macamlah. Apalagi jika mereka habis menonton suatu pertunjukan panggung yang membuai khayalan mereka pasti terkenang selalu. Karena bagi seorang anak, hidup adalah sebuah petualangan kreatif yang menakjubkan.


Sebuah operet musikal yang penuh warna, tarian, lagu, gerakan, musik, dialog, humor, dan penuh kegembiraan bila disuguhkan kepada anak, maka akan melekat terus selama berminggu-minggu dalam otaknya. Anak juga akan meniru gerakan tokoh yang disukainya, berpura-pura menjadi balerina, menggunakan benda yang ada di kamarnya untuk mengulang adegan yang pernah dilihat olehnya. Mengapa otak anak bisa merekam ”keajaiban” operet dalam otaknya sedangkan pelajaran sekolah sulit?

Roger Sperry menemukan fungsi di dua belahan otak. Jadi sebenarnya meski kita memiliki satu otak, tetapi ia memiliki bagian-bagian tersendiri. Otak kiri mengontrol kemampuan berbicara, pemikiran logis dan tubuh bagian kanan. Sedangkan otak kanan mengontrol penglihatan mengenai ruang atau tempat, pengenalan pola (atau susunan gambar atau warna), dan tubuh bagian kiri.

Walaupun masing-masing bagian mempunyai fungsi yang berbeda tetapi ia bekerja sama secara sinergi satu dengan yang lainnya. Aktivitas otak kiri berkaitan dengan angka-angka, kata-kata, struktur atau susunan, hal yang bersifat matematis dan ilmiah, hal yang bersifat linear, dan hal yang mempunyai pertimbangan secara analisis.

Aktivitas otak kanan berkaitan dengan gambar, bentuk, warna, irama, musik, imajinasi, kreativitas, orisinalitas, daya cipta, seni, dan pikiran secara menyeluruh. Oleh karena itu bila anak belajar dengan kedua sisi otaknya, maka akan membentuk sinergi dan lebih baik. Itu sebabnya mengapa ia lebih mudah menghapalkan dialog para pemain operet daripada pelajaran sekolah. Imajinasi anak pun akan meningkat secara drastis dan luar biasa.

 

Selain itu, dengan membiarkan anak menonton pertunjukan seni secara langsung dan ”hidup”, maka keuntungan akan langsung diperoleh oleh anak. Anak akan menjadi lebih aktif dalam mempergunakan indera kreatif dan multiple intelligences (kecerdasan majemuk) mereka. Menurut Howard Gardner ada delapan kecerdasan majemuk yang ada dalam diri setiap anak, dan bagaimana cara operet mengasah kecerdasan dalam diri anak:


1. Kecerdasan Linguistik: kemampuan berbicara atau menulis dengan baik. Saat melihat operet, anak diajak menyimak dialog dan permainan kata antar pemain serta menanggapi humor yang diselipkan. Dengan begitu kecerdasan linguistik anak juga akan terasah.  

2.  Kecerdasan Logis-matematis: kemampuan menalar, menghitung, dan menangani pemikiran logis. Saat melihat pertunjukan anak dirangsang untuk mengikuti alur dan logika cerita yang disampaikan dari awal sampai akhir pertunjukan. Anak juga bisa belajar matematika secara tidak langsung dengan melihat berapa jumlah pemain dengan kostum yang sama atau berapa tokoh yang memainkan tokoh jahat misalnya. Dengan begitu konsentrasi dan kecerdasan logis matematis anak akan terangsang.

3.  Kecerdasan Visual Spasial: kemampuan melukis, memotret, atau mematung. Saat operet berlangsung ditambah dengan tata lampu yang fantastis akan memanjakan mata anak akan warna, visualisasi gerakan tarian, kostum, dan tata ruang dekorasi pentas yang menakjubkan. Hal ini akan meningkatkan kecerdasan visual spasial dan daya khayal anak.

4.  Kecerdasan Kinestetik: kemampuan menggunakan anggota tubuh, yang dicontohkan oleh para olahragawan dan aktor besar. Kelenturan gerakan para pemain dan balerina akan memacu kecerdasan kinestetik anak dengan meniru gerakan mereka di rumah.

5.  Kecerdasan Musikal: kemampuan menggubah lagu, bernyanyi, dan memainkan alat musik. Tata suara operet yang hingar bingar akan langsung memicu kecerdasan musikal dalam diri anak.  

6.  Kecerdasan Antarpribadi: disebut juga kecerdasan ”sosial”-adalah kemampuan berhubungan dengan orang lain. Saat melihat pertunjukan musikal, anak akan melihat bagaimana kerjasama antar pemain, dan anak bisa berkenalan dengan teman baru yang juga sama-sama menonton pertunjukan. Dengan begitu kecerdasan antarpribadi anak juga akan dipicu.

7.  Kecerdasan Intrapribadi: kemampuan mengelola perasaan dan kesadaran diri sendiri. Dialog-dialog tokoh utama yang mengharu biru, humor-humor segar, persahabatan, atau saat Alice ditangkap penjahat yang melibatkan emosi anak akan mampu meningkatkan kecerdasan intrapribadi anak serta ide-ide cemerlang anak.

8.  Kecerdasan Naturalis: kemampuan mengeksplorasi alam, hewan, tumbuhan dan lingkungannya. Pertunjukan operet kerap menyuguhkan tokoh hewan atau tumbuhan serta pemandangan alam sebagai latar belakang panggung untuk merangsang kecerdasan naturalis anak.


Walaupun kadar masing-masing kecerdasan ini berbeda-beda pada setiap anak. Namun pengalaman anak tentang kreativitas pada masa kecilnya akan banyak menentukan apa yang akan ia lakukan ketika dewasa, mulai dari soal kerja sampai soal keluarga.


Dalam masa pertumbuhan, terutama pada periode emas dibawah usia 12 tahun, anak juga akan menjadi lebih impresif dalam memanfaatkan semua indera yang dimilikinya. Karena itu, anak menjadi lebih kuat sisi emosional, psikologis, dan imajinasi mereka. Bahkan lebih jauh lagi, sejumlah pakar menyebutkan, bermain peran membantu anak belajar bekerja sama, bergiliran. Dan hasilnya, permainan seperti ini mendorong rasa percaya diri dan sosialisasi. Jadi ketika anak memerankan suatu cerita dalam suatu operet, akan membantu mereka menghargai perspektif dan perasaan orang lain. Bagaimana perasaan Alice di negeri ajaib atau saat dikejar-kejar penjahat. Ini mendorong perasaan empati. Selain itu, dengan mengulang dialog, membantu anak membangun keterampilan bahasa dan perbendaharaan kata.


Saat anak tampil di depan penonton dengan bernyanyi, memainkan alat musik, melawak membantu anak mengembangkan bakat dan kepercayaan pada dirinya sendiri. Aplaus yang mengikuti pertunjukan yang berhasil adalah pembangun kepercayaan diri yang luar biasa bagi anak. Hal penting lainnya adalah operet yang diadakan dalam gedung pertunjukan akan mendorong anak menciptakan dunia khayal. Dalam ruang ajaib ini anak merasa bebas menjadi siapapun, meninggalkan dunia keseharian di belakang dan membiarkan khayalan berkembang dengan perasaan gembira. Dengan kata lain, operet akan memberikan anak pengalaman belajar di lapangan. Karena anak-anak diajak bagaimana rasanya terlibat dalam suatu karya seni, tertawa senang, mengamati kemampuan para pemain serta mengaktifkan otak kiri dan kanannya lewat warna, suara, kata, gerak dan sebagainya. Pengalaman ini akan tertanam dalam ingatan anak dan bisa dijadikan modal untuknya dalam menyuburkan kreativitas dalam dirinya. Mereka pun akan tumbuh menjadi pribadi kreatif, mampu mengapresiasi seni dan bahagia.


Lewat operet ini juga, baik anak yang terlibat di dalam pertunjukan dan yang menontonnya akan mendapat kesempatan untuk mendorong kreativitas serta mengasah rasa ingin tahu dan spontanitasnya sebanyak mungkin. Anak juga akan terinspirasi oleh tokoh-tokoh yang lucu dan menjadikan kenangan indah yang tidak menimbulkan trauma baginya. Akhirnya, ketertarikan yang spontan ini mengantarkan anak pada usaha tanpa henti dan pengalaman langsung yang membangun penguasaan, entah itu untuk bermain musik, menari, atau menciptakan koreografi dan dekorasi panggung.


Kreativitas akan tumbuh subur jika sesuatu dilakukan dengan gembira. Ketika anak-anak belajar berkreasi, menciptakan suasana yang gembira sama penting atau malah lebih daripada ”melakukannya dengan benar”.Yang penting adalah kesenangannya, bukan kesempurnaannya dan menyeimbangkan antara kehidupan formal dan informal anak, anak merupakan anugrah paling berharga dalam kehidupan kita. Semoga artikel rangkuman dari berbagai sumber mengenai kecerdasan majemuk anak dalam blog ini dapat menjadikan manfaat bagi siapa saja. 

(Dari Berbagai Sumber & Special thank to Femi O)

 

bisakah anda membktikan artikel anda di atas?

Comment Comment

bisakah anda membuktikan kalau keterampilan menyimak dengan kecerdasan itu saling berhubungan?

Comment

Saya tdk tahu anda berlatarbelakang apa, tp kl dilihat dr pertanyaan sptnya anda berlatar belakang komunikasi atau psikologi, maaf jk salah. Saya berlatar belakang sb.daya alam, jk secara teotirtis jelas bkn bidang saya, tp ijinkan sy coba menjawab anda secara praktis.

Menyimak termaktub makna menerima informasi dari sumber secara lisan. Menyimak memiliki beberapa tahapan secara sederhananya sbb: mendengarkan kemudian memahami selanjutnya melakukan interpretasi, lalu diaktualisasi, setelah itu dievaluasi, kemudian menanggapi demikian seterusnya dsb.

Ada banyak jenis kecerdasan, diantaranya saya ambil contoh kecerdasan linguistik. Kecerdasan linguistik ditampilkan dlm bentuk ragam kemampuan berolah kata yg mencakup salah satu diantaranya adl menyimak secara efektif. Menyimak secara efektif adl memahami, menguraikan, menafsirkan & mengingat apa yg diucapkan.
Dengan demikian setidaknya dpt sedikit menjawab pertanyaan anda mengenai hubungan ketrampilan menyimak dg kecerdasan. terimakasih

Comment

Memang anak yang cerdas adalah idaman setiap orang tua. Tetapi selain cerdas bangsa ini juga membutuhkan anak yang berakhlak.

Comment Comment

Kecerdasan majemuk (multiple intelegence/MI) merupakan kecerdasan yang terbawa sejak lahir dan tidak dapat dibentuk. Ini sama seperti konsep IQ. Menurut Howard Gadner seorang Prof. di Univ Harvard yang memperkenalkan MI, bahwa setiap anak membawa bakat ini dalam kehidupannya. Dalam buku teori terakhirnya sebenarnya ada 9 kecerdasan, cuma yang paling dikenal saat ini adalah 8 kecedasan. Kita sebagai orang tua mestinya jeli melihat kecedasan anak dengan melakukan kegiatan2 yang kemudian kita bisa memperhatikan reaksi anak tsb terhadap kegiatannya. Tetapi sekarang ada teknik baru dengan melihat bakat anak berdasarkan sidik jari. Salah satunya DMI. DERMATOGLYPHICS MULTIPLE INTELLEGENCE ASSESSMENT (DMI)
adalah ILMU / METODA yang berbasis teknologi canggih ( Statistik dan Pemrogram Komputer ) guna membaca PETA POTENSI DIRI melalui sidik jari (FINGERPRINTS) sebagai bentuk rasa syukur dan Ikhtiar atas Karunia Tuhan. Dan kebetulan saya sudah membuktikan itu dengan anak saya.
Berdasrkan tes bakat, disebutkan anak saya mempunyai kecerdasan menonjol di 4 kecerdasan. Si psikolog anak menceritakan ttg anak saya berdasarkan hasil test ttg tingkah laku,kepribadian,dsb ttg anak saya, dan sangat menakjubkan hampir 100% apa yang diceritakan benar. Padahal psikolog tidak kenal anak saya.
Dari hasil test bakat disebutkan bhwa anak saya menonjol di kecerdasan musik, dan oleh istri saya dimasukkan ke sekolh musik, dan menakjubbkan. Sianak cukup/sangat berbakat belajr musiknya dibandingkan dengan teman2 satu kelas musiknya. Jadi riset Prof. Howard ini snagat ilmiah dan terbukti, bahwa tiap anak adalah cerdas, tinggal bagaimana kita ortu harus pintar melihat kecerdasannya ada dimana.
Yang perlu diingat, hanya beberapa kecerdasan saja yang menjadi tolak ukur utuk menjadi "anak cerdas" berdasarkan konsep di sokolah. Sekolah secara umum menganggap bahwa anak yang pintar matematika,fisika,kimia,bhs,biologi adalah anak yang cerdas. Padahal menurut Howard Gadner, Albert Einstein sama jeniusnya dengan Rudi Hartono. Bayangkan siapa atlet bulutangkis yang bisa menjuarai All England sebanyak 7 kali ? Hanya Rudi Hartono dengan kecerdasan kinestetiknya.

Comment

setuju! dg pendidikan berbasis kecerdasan majemuk berarti kita mendidik manusia menjadi manusia bukat robot bertubuh manusia. apa anda mempunyai perangkat tes MI tsb utk anak dibawah 5 th?

Comment

Tidak punya, saya cuma test bakat anak saya menggunakan sidik jari (DMI). Saya pernah dengar ada sekolah di Jakarta, yang menggunakan konsep MI disekolahnya. Saya berharap pemerintah harusnya bisa melihat potensi anak negeri ini bukan hanya dinilai dari nilai UN yang baik/bagus. Jadi bagi ortu jangan berkecil hati senadainya anak kita nilai UN tidak bagus2 amat. Bisa jadi memang kecerdasan anak kita memang bukan di kecerdasan logis-matematik, atau liguistik.

Comment

untuk semuanya seandainya menginginkan tes DMI, bisa hubungi saya (Primagama Duta Permai (area Bekasi), 021-88860160)info lebih lanjut www.dmiprimagama.com

Comment

Dear All,

Bagi yang membutuhkan jasa tes DMI, Mas Yanto sudah promosi jasanya di blog saya, walau tanpa kulonuwun btw karena demi kemanfaatan dan masa depan anak2 negri, it's OK, silahkan dimanfaatkan...

Comment

Assalamualakum Wr Wb
Saran saya terus saja menulis saran/ kritik itu biasa. Sy melihat nya setiap kebaikkan membawa kebaikkan walau kita tak sempurna. Karena sempurna itu milik Tuhan. Manusia ilmu pengetahuan selalu berproses untuk ke tahap lebih baik, Selamat menulis ya. Trims ya

Comment


Comment